Suatu Negeri dapat dikatakan kaya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang dan papan, itu yang saya ketahui sesuai pelajaran ekonomi koperasi ("zaman smp & sma dulu hehehe").
Dan mungkin kategori diatas juga yang dijadikan dasar bagi para pakar ekonom dan pemerintah untuk menentukan tingkat ke Sejahteraan serta mungkin juga dengan perhitungan sumber daya alam yang dimiliki saat ini. Tapi teori dan analisa tidak akan sama dengan realitas jika semua hanya dipandang dari coretan-coretan analisa diatas kertas dan mengabaikan "menutup mata" dengan fakta yang sebenarnya terjadi di masyarakat.
Memang pada dasarnya analisa diambil dari berbagai macam sistem , mulai dari statistik report sampai dengan random survey, tetapi pertanyaan yang keluar apakah hasilnya memang real.
Contohnya sebuah perusahaan survey kelayakan dan kepuasan konsumen yang pekerjaannya untuk mengetahui kepuasan konsumen akan sebuah produk, melakukan survey random kepada sejumlah konsumen dan kasus ini saya alami sendiri (karena petugas surveynya tetangga saya ~_~), dimana petugas survey dari perusahaan tersebut melakukan survey dengan hanya menitipkan kuesioner kepada para tetangganya yang rata-rata satu rumah diberikan lima kuesioner dan harus diisi seperti keinginannya dan imbalannya dapat sovenir deh hehehe.
Dari contoh diatas bisa dikatakan bahwa data yang diterima tidak akan valid seperti yang sudah di planning kan oleh pihak perusahaan yang menggunakan jasa surveynya ya istilahnya ABG ("Asal Bapak Senang"). Ini baru contoh dibidang produk dan Bagaimana Survey dalam sistem analisa Tingkat kesejahteraan rakyat ? ,
Jawabnya : Ya hampir sama, survey dan analisa tingkat pertumbuhan ekonomi warga dan kesejahteraan rakyat saat ini saya rasa hanya menyentuh level-level tertentu saya dalam kata lain analisa tersebut hanya berada dalam lingkaran Top Level dan Mid Level sedang kan untuk Low Level "alias orang miskin" hampir tidak tersentuh sama sekali. Tapi ya mungkin memang begitu dasarnya, hal ini juga bukan terjadi di Negeri kita tercinta saja tetapi juga di negeri lainnya (Terutama wilayah Asia).
Contohnya apa ?, contoh yang paling mudah itu dengan adanya Kategori Orang terkaya di Negeri ini, nah nominasi ini biasanya tiap tahun akan diumumkan oleh beberapa majalah bidang ekonomi dan marketing. Bahkan pada tahun 2008 - 2010 ada pengusaha Negeri ini yang menjadi orang terkaya di Asia, tetapi pada saat bersamaan Negeri ini juga masih masuk kategori negara dengan kesejahteraan rakyat yang memprihatinkan. Karena apa ?, karena analisa hampir tidak menyentuh kaum minoritas.
Dan pada saat yang sama juga terdengar kabar bahagia jika negeri ini kaya akan hasil tambang dan keuntungan perusahaan tambang asing yang ada dinegeri ini telah melebihi target produksi yang telah ditentukan. Tetapi kembali lagi pada saat yang bersamaan juga diketahui kehidupan rakyat disekitar area tambang dengan keuntungan melimpah tersebut sangat memprihatinkan mulai dari kemiskinan sampai kebodohan karena tidak ada biaya untuk sekolah.
Dan masih banyak contoh-contoh lainnya, yang paling bisa dirasakan dan dinikmati saat ini adalah kelangkaan BBM, sampai-sampai di propinsi yang juga dijuluki sebagai Lumbung Energi Nasional juga merasakan Antri BBM , terlebih jika melakukan perjalanan keluar kota jangan diharapkan bisa mengisi premium di SPBU Pertamina yang ada jika tidak ingin merasakan olahraga dorong beban disiang hari dan dimalam hari harus mengisi di Pedangan Eceran dengan harga eceran berkisar 6 - 7 ribu rupiah. dan yang paling anehnya pedagang ecerannya berjejer didepan SPBU hehehe.
Dan mungkin kategori diatas juga yang dijadikan dasar bagi para pakar ekonom dan pemerintah untuk menentukan tingkat ke Sejahteraan serta mungkin juga dengan perhitungan sumber daya alam yang dimiliki saat ini. Tapi teori dan analisa tidak akan sama dengan realitas jika semua hanya dipandang dari coretan-coretan analisa diatas kertas dan mengabaikan "menutup mata" dengan fakta yang sebenarnya terjadi di masyarakat.
Memang pada dasarnya analisa diambil dari berbagai macam sistem , mulai dari statistik report sampai dengan random survey, tetapi pertanyaan yang keluar apakah hasilnya memang real.
Contohnya sebuah perusahaan survey kelayakan dan kepuasan konsumen yang pekerjaannya untuk mengetahui kepuasan konsumen akan sebuah produk, melakukan survey random kepada sejumlah konsumen dan kasus ini saya alami sendiri (karena petugas surveynya tetangga saya ~_~), dimana petugas survey dari perusahaan tersebut melakukan survey dengan hanya menitipkan kuesioner kepada para tetangganya yang rata-rata satu rumah diberikan lima kuesioner dan harus diisi seperti keinginannya dan imbalannya dapat sovenir deh hehehe.
Dari contoh diatas bisa dikatakan bahwa data yang diterima tidak akan valid seperti yang sudah di planning kan oleh pihak perusahaan yang menggunakan jasa surveynya ya istilahnya ABG ("Asal Bapak Senang"). Ini baru contoh dibidang produk dan Bagaimana Survey dalam sistem analisa Tingkat kesejahteraan rakyat ? ,
Jawabnya : Ya hampir sama, survey dan analisa tingkat pertumbuhan ekonomi warga dan kesejahteraan rakyat saat ini saya rasa hanya menyentuh level-level tertentu saya dalam kata lain analisa tersebut hanya berada dalam lingkaran Top Level dan Mid Level sedang kan untuk Low Level "alias orang miskin" hampir tidak tersentuh sama sekali. Tapi ya mungkin memang begitu dasarnya, hal ini juga bukan terjadi di Negeri kita tercinta saja tetapi juga di negeri lainnya (Terutama wilayah Asia).
Contohnya apa ?, contoh yang paling mudah itu dengan adanya Kategori Orang terkaya di Negeri ini, nah nominasi ini biasanya tiap tahun akan diumumkan oleh beberapa majalah bidang ekonomi dan marketing. Bahkan pada tahun 2008 - 2010 ada pengusaha Negeri ini yang menjadi orang terkaya di Asia, tetapi pada saat bersamaan Negeri ini juga masih masuk kategori negara dengan kesejahteraan rakyat yang memprihatinkan. Karena apa ?, karena analisa hampir tidak menyentuh kaum minoritas.
Dan pada saat yang sama juga terdengar kabar bahagia jika negeri ini kaya akan hasil tambang dan keuntungan perusahaan tambang asing yang ada dinegeri ini telah melebihi target produksi yang telah ditentukan. Tetapi kembali lagi pada saat yang bersamaan juga diketahui kehidupan rakyat disekitar area tambang dengan keuntungan melimpah tersebut sangat memprihatinkan mulai dari kemiskinan sampai kebodohan karena tidak ada biaya untuk sekolah.
Dan masih banyak contoh-contoh lainnya, yang paling bisa dirasakan dan dinikmati saat ini adalah kelangkaan BBM, sampai-sampai di propinsi yang juga dijuluki sebagai Lumbung Energi Nasional juga merasakan Antri BBM , terlebih jika melakukan perjalanan keluar kota jangan diharapkan bisa mengisi premium di SPBU Pertamina yang ada jika tidak ingin merasakan olahraga dorong beban disiang hari dan dimalam hari harus mengisi di Pedangan Eceran dengan harga eceran berkisar 6 - 7 ribu rupiah. dan yang paling anehnya pedagang ecerannya berjejer didepan SPBU hehehe.
- Lumayan Pak untung sedikit "ujar salah satu pedagang" ,
- Memang ambil di SPBU berapa per liter Pak
- 5500 - 6000 Pak, kalau 5500 kita jual 6000 /liter kalau 6000 kita jual 7000 "Jawab Pengecernya"
Ternyata oh ternyata SPBU tidak ada kontrol dan pengawasan, walau ada beberapa SPBU dengan sepanduk besar menghimbau "Tidak melayani pembelian Drigen , karena BBM Subsidi untuk kepentingan rakyat yang membutuhkan " , himbauannya ada Note di bawah Polres xxxxxxxx , hehehe. yang ada himbauan aparat aja nyata-nyata kalau ada pengisian tangki langsung deh ratusan drigen ikut antriiii....
Jika dilihat dari contoh-contoh kasus diatas , apakah layak pemerintah dengan bangganya mengumumkan Bahwa saat ini ..... Saat ini perekonomian kita telah naik sekian persen dan kesejahteraan rakyat sudah meningkat dengan melihat perputaran nilai jual dan beli produk. "ya jelas naik nilai jual beli dilihat dari statistik jual beli kendaraan yang bukan rahasia umum lagi hampir 60% didapat dari kreditan kalau tidak mampu bayar 3 bulan barang ditarik, nanti 1 bulan ambil lagi yang baru hehehe".
Jadi kesimpulan saya "yang bukan pakar ekonom & statistik ini" sebagian besar paparan pemerintah atas kesejahteraan rakyat hanya isapan jempol semata. karena hanya berdasarkan statistik dan analisa terhadap beberapa Level masyarakat saja. dan kurang melihat realita yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Negeri Kaya Yang Miskin "Miskin hati dan Miskin Perasaan"
Sumber foto :baltyra.com













